Sebagian besar pekerjaan kita dalam harokah ini sebenarnya terletak pada membangun kekuatan kebertahanan, kita akan menghabiskan banyak waktu, fikiran dan energi untuk pekerjaan ini. Mengapa? Sebab kemampuan ini sebenarnya akan menentukan seberapa jauh kita melangkah ke depan. Kemampuan ini yang akan mengukur kekuatan lompatan kita, apakah mampu sampai ke depan atau tidak. Dan jika kita mampu menyelesaikan dengan baik pekerjaan besar ini maka kejayaan dan kemenangan hanyalah masalah waktu saja, dan kita akan lebih tahu waktu yang tepat untuk meraihnya. Kepemimpinan adalah salah satu tools ketahanan kita membangun peradaban dengan menjaga kebertahanan ideologi, nilai, sistem dan pengetahuan kita melalui kepemimpinan. Sebab kepemimpinan dalam setiap sejarah yang selalu berulang-ulang, telah memberikan porsi terbesar bagi seluruh masalah yang dihadapi setiap generasi dan peradaban. Ia menjadi syarat utama sekaligus sebagai ruh kehidupan yang ditiupkan kepada satu tubuh, satu entitas yang disebut Al-Jami’.
Al-Jami’ sebenarnya hanya sebuah
benda mati yang setiap saat membutuhkan tiupan ruh kepemimpinan. Kepemimpinan
menjadi ruh yang dimiliki untuk mengantarkan lokomotif peradaban ini menuju
kepada stasiun kejayaan. Maka perlu setiap saat, setiap dimana kita harus
bergerak membangun harapan, ruh ini harus mengisi ruang demi ruang kepemimpinan
di Al-Jami’. Bukan hanya sekedar memilih ketua, mencetak kader dakwah,
melahirkan penerus dan pengurus, menggugurkan program-program, tapi lebih dari
itu, yaitu menghadirkan pemimpin yang lebih mampu, dipercaya memberikan
kontribusi terbaik di kampus. Karena kampus adalah miniatur masyarakat bangsa
kita, maka terujinya Al-Jami’ memberikan peran sosial dan kepemimpinan di
kampus adalah indikator pertama keberhasilan dakwah kita.
Oleh karena itu, para perintis
dakwah kampus kita di UIN, sejak dakwah ini diperkenalkan ke masyarakat kampus
2006 silam, telah melahirkan instrumen-instrumen untuk mencetak para pemimpin,
baik secara formal, maupun non formal di Al-Jami’. Training Muslim Kaffah
sebagai pelatihan kader tingkat 3 adalah salah satunya. Ini bukan sekedar
pemberian materi dan taujih, juga bukan sekedar forum share dan diskusi apalagi
sekedar even insidental yang menghabiskan dana dan fikiran serta menguras
energi. Bukan, bukan itu. Itu sangat sederhana. Namun kegiatan ini menjadi
ikhtiar para perintis dakwah, pembangun dakwah serta penerus dakwah kampus ini
untuk mengelola masa transisi kader menuju generasi kepemimpinan berikutnya.
Al-Jami’ bukan hanya komunitas
dakwah, tapi juga komunitas pemimpin hebat, saya sangat percaya itu. Maka
membangun komunitas ini melalui Training Muslim Kaffah memiliki urgensi yang
sangat tinggi. Walaupun jika saya bertanya kepada peserta TMK hari ini: “apa
pentingnya antum/na mengikuti TMK?” maka sedikit yang akan mampu menjawabnya
dengan benar sesuai selera ideologi kita. Maka dengan risalah ini, saya ingin
mengajak antum/na sahabat-sahabat dakwahku, para pemimpin peradaban untuk
kembali meluruskan niat, mengikhlaskan segalanya agar kemurnian pemahaman
dakwah ini bisa mengalir ke seluruh tubuh kita, melewati setiap urat nadi kita,
memenuhi otak dan menyegarkan energi kita lalu meledakkan visi peradaban Al-Jami’
di tahun-tahun mendatang.
Saya ingin kembali bertanya,
“apa pentingnya antum/na mengikuti TMK?”. “mengapa antum/na harus berada di
tempat ini? “Apa yang ingin antum/na dapatkan dari pelaksanaan TMK untuk
membawa Al-Jami’ ke depan?”. Jika hanya sekedar “menggugurkan kewajiban” naik
tingkat levelisasi kader, maka antum/na bukanlah sosok pemimpin yang dicari
Al-Jami’. Sekali lagi bukan. Jika hanya sekedar “menggugurkan ketaatan” maka
ketaatan terbaik adalah disaat antum/na mendirikan malam dengan sujud, ruku
serta doa-doa antum/na tanpa seorangpun yang tahu. Jika hanya sekedar ingin
mendapatkan ilmu dan pengetahuan, maka lebih baik antum/na masuk di fakultas
dakwah atau mengikuti seminar-seminar kepemimpinan. Jika sekedar ingin mencari
sensasi dan tebar pesona, maka mari kita berlindung diri kepada Allah dari
segala penyakit riya, yang menggugurkan segala kebaikan-kebaikan kita.
Ketika antum/na berjalan di
trotoar di tengah keramaian, berhentilah sejenak dan lihatlah kesibukan seluruh
orang-orang yang ada di sekeliling antum/na. dari pengendara motor, penjaja
makanan, penjual minuman, sopir angkot dan bocah penjual Koran di lampu merah
Alauddin. Dan berdialoglah dengan hati, maka antum/na akan mendapatkan satu
pertanyaan bahwa “siapa yang menggerakkan mereka semua?” Siapa? Maka biarkan
mereka menjawab, HARAPAN. Harapan yang menggerakkan kita berbuat dan mencapai
sesuatu. Seperti kita semua hari ini. Namun, kita berbeda (mungkin) dengan
mereka, sebab kita menjadikan Allah sebaik-baik tempat menyandarkan harap.
Harapan ini pula yang harus antum/na bawa pulang ke rumah masing-masing setelah
mengikuti seluruh sesi pelaksanaan TMK, harapan untuk bersama-sama membawa Al-Jami’
ke depan menuju momentum terbaiknya. Dan biarkanlah alam beserta isinya yang
“melantik” antum/na menjadi sejatinya pemimpin dengan segala energi positifnya
yang di hembuskan melalui semilir angin di celah dedaunan pepohonan, dan
biarkanlah bunga mawar, melati. lavender dan lainnya mengirimkan semerbak wangi
baunya ke lisan, pemikiran dan gerak antum/na. Dan akhirnya, seluruh semesta
akan mengatakan ANDA LAYAK MEMBAWA UMMAT INI MENUJU SINGGASANA PERADABANNYA.
Seperti sejarah yang telah mengakui prestasi emas para pahlawan, pemimpin, dan
penakluk.
Barakallahu
lakum wa ma’an najaahan.
16 November 2012
Mustaqim, S.Pd.I
Ketua UKM LDK
Al-Jami’ UIN Alauddin Makassar
Periode 2009
