Kampus peradaban , inilah harapan untuk
sebuah kampus dan inilah yang menjadi harapan setiap kampus. Kampus adalah
salah satu wadah yang menjadi salah satu tempat bagi para intelektual. Para
intelektual datang dari berbagai penjuruh dan pelosok daerah untuk melanjutkan
pendidikan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi dan untuk mengasah kembali
keintelektualannya, inilah yang sering dinamakan dengan sebutan dunia kampus.
Disinilah para intelektual intelektual mengaduh nasib dan berjuang untuk
menjadikan sebuah proses untuk mengasah keintelektualannya dengan cara
berproses untuk mencapai suatu titik dalam kehidupannya.
Para intelektual kampus atau biasa disebut
dengan sebutan mahasiswa adalah sebagai pilar
dalam dunia Kampus. Mahasiswalah yang akan membuat kampus menjadi suatu
tempat yang akan menjadi peradaban bagi intelektual inetlektual, akan tetapi
perang mahasiswa bukan hanya satu
satunya pilar sebagai penentu untuk menjadikan kampus sebagai peradaban, ada
berbagai pihak yang takkalah pentingnya untuk menjadikan kampus menjadi suatu
peradaban, salah satunya adalah pihak yang sering dikatakan sebagai pelaksana
atau penyedia, atau dengan sebutan para akademisi, atau sering disebut sebagai
pembimbing bagi para intelektual dengan kata lain para pimpinan.
Apabila Para intelektual dan para pembimbing
mempunyai arah yang jelas dan tujuan yang pasti dalam kehidupan dunia kampus,
atau lebih sering disebut dengan kata visi dan misi, tentulah akan menciptakan
yang namanya sebuah kampus yang berpradaban, yang bukan hanya sebutan kata
kampus peradaban akan tetapi menjadikan tempat yang benar benar beradab, baik
dilihat dari para mahasiswa maupun dari pihak pihak akademisi demi mencapai sebuah
titik harapan didalam sebuah peradaban.
Akantetapi dengan realitas dan berbagai
dinamika dinamika dan problematika problematika yang terjadi dalam dunia
kampus, masih bisakah dikatakan kampus sebagai wadah bagi para intelektual,?Itu
adalah sebuah pertanyaan yang mendasar untuk sebuah kampus, atau apakah kampus
hanya sebagai sebuah simbol belaka yang menjadi sebuah tempat yang diagung
agungkan para intelektual dalam mengasah keintelektualannya, akan tetapi itu
hanya sebuah pandangan yang kosong tanpa arti dan makna yang jelas, dikarnakan
apa yang dibayangkan sebagai tempat untuk mengasah keintelektualannya itu tidak
sesuai dengan khorespondensi akan tetapi hanya sebuah tempat yang prakmatis.
Apalagi bila dikatakan kampus adalah sebuah
peradaban untuk intelektual intelektual,
bagi saya itu adalah sesuatu yang kontradiksi dengan realitas yang ada,
dikarnakan kampus peradaban itu hanya sebuah sebutan yang tidak khorespondensi, karena apabila kita ingin
melihat dan merasakan yang namanya sebuah peradaban itu tidak hanya sebagai
sebutan kosong yang tanpa ada implementasinya. Maka timbullah pertanyaan Apakah
kampus bisa dikatakan sebuah peradaban bagi para intelektual?, tentunya apabila
kita melihat dan menganalisa dengan kondisi kampus dengan realitasnya, tentu
kita akan mengatakan kampus itu tidak akan pernah bisa dikatakan sebuah tempat
yang berpradaban.
Bukan lagi halnya dengan mahasiswa yang
sering disebut dengan kata lain para intelektual kampus, yang tidak mempunyai
tujuan dan arah yang pasti dalam menjalani layaknya kehidupan dalam dunia
kampus yang hanya terjebak dan terjerumus dalam lilku liku dari berbagai
dinamika dinamika dan rekayasa yang dibuat oleh pihak pihak yang seolah olah
untuk kepentingan mahasiswa atau para intelektual, akantetapi itu hanya sebuah
simbol belaka yang mempunyai tujuan dibalik tujuan itu, yang mempunyai tujuan
yang tidak jelas dan menjadikan mahasiswa sebagai korban dari rekayasa sosial.
Mereka para mahasiswa yang telah terjerumus dan terjebak dalam rekayasa yang
telah dibuat oleh para kaum kaum yang biadab yang mengatakan dirinya beradab,
telah membuat para mahasiswa menjadi budak budak dalam kehidupan dunia kampus.
Akan tetapi Anehnya dan menurut saya sangat ironis ternyata banyak para
mahasiswa yang telah terjerumus tidak mengatui bahwa dirinya telah berada dalam
rekayasa kehidupan kampus.
Maka melihat realitas sebagaian mahasiswa,
khususnya yang telah terjerumus dalam dinamika atau korban rekayasa, tentulah
timbul pertanyaan. Masih layakkah mahasiswa dikatakan sebagai para
intelektual.? Jawabannya tentu ada pada diri kita masing masing. Dan apabila
kita menganngap diri kita sebagai mahasiswa atau dengan kata lain para
intelektual, maka maknailah segala sesuatu dengan melihat makna dibalik
realitas yang terjadi. Tentunya kita harus mempunyai pribadi yang tidak menjadi
korban rekayasa dalam berbagai dinamika kampus, kita harus memiliki sifat yang
biasa disebut dengan kata RAKUS, Rasional, Analisis, Kritis Universal dan
sistematis, dalam bertindak atau dengan kata lain berpikir secara Radikal.
Jadi pada hakikatnya apabila kita ingin
menjumpai yang namanya kampus sebagai wadah para intelektual, dan sebagai
tempat untuk mengasah keintelektualan, apalagi sebuah tempat yang dikatakan
sebuah tempat yang berpradaban maka perlu ada realisasi yang aktualisasi demi
meraih visi dan misi.
Analisis
Kampus
Ramli
Tidak ada komentar:
Posting Komentar