Sabtu, 12 Januari 2013

Kampus Peradaban


Kampus peradaban , inilah harapan untuk sebuah kampus dan inilah yang menjadi harapan setiap kampus. Kampus adalah salah satu wadah yang menjadi salah satu tempat bagi para intelektual. Para intelektual datang dari berbagai penjuruh dan pelosok daerah untuk melanjutkan pendidikan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi dan untuk mengasah kembali keintelektualannya, inilah yang sering dinamakan dengan sebutan dunia kampus. Disinilah para intelektual intelektual mengaduh nasib dan berjuang untuk menjadikan sebuah proses untuk mengasah keintelektualannya dengan cara berproses untuk mencapai suatu titik dalam kehidupannya.
Para intelektual kampus atau biasa disebut dengan sebutan mahasiswa adalah sebagai pilar  dalam dunia Kampus. Mahasiswalah yang akan membuat kampus menjadi suatu tempat yang akan menjadi peradaban bagi intelektual inetlektual, akan tetapi perang mahasiswa  bukan hanya satu satunya pilar sebagai penentu untuk menjadikan kampus sebagai peradaban, ada berbagai pihak yang takkalah pentingnya untuk menjadikan kampus menjadi suatu peradaban, salah satunya adalah pihak yang sering dikatakan sebagai pelaksana atau penyedia, atau dengan sebutan para akademisi, atau sering disebut sebagai pembimbing bagi para intelektual dengan kata lain para pimpinan.
Apabila Para intelektual dan para pembimbing mempunyai arah yang jelas dan tujuan yang pasti dalam kehidupan dunia kampus, atau lebih sering disebut dengan kata visi dan misi, tentulah akan menciptakan yang namanya sebuah kampus yang berpradaban, yang bukan hanya sebutan kata kampus peradaban akan tetapi menjadikan tempat yang benar benar beradab, baik dilihat dari para mahasiswa maupun dari pihak pihak akademisi demi mencapai sebuah titik harapan didalam sebuah peradaban.
Akantetapi dengan realitas dan berbagai dinamika dinamika dan problematika problematika yang terjadi dalam dunia kampus, masih bisakah dikatakan kampus sebagai wadah bagi para intelektual,?Itu adalah sebuah pertanyaan yang mendasar untuk sebuah kampus, atau apakah kampus hanya sebagai sebuah simbol belaka yang menjadi sebuah tempat yang diagung agungkan para intelektual dalam mengasah keintelektualannya, akan tetapi itu hanya sebuah pandangan yang kosong tanpa arti dan makna yang jelas, dikarnakan apa yang dibayangkan sebagai tempat untuk mengasah keintelektualannya itu tidak sesuai dengan khorespondensi akan tetapi hanya sebuah tempat yang prakmatis.
Apalagi bila dikatakan kampus adalah sebuah peradaban untuk  intelektual intelektual, bagi saya itu adalah sesuatu yang kontradiksi dengan realitas yang ada, dikarnakan kampus peradaban itu hanya sebuah sebutan yang tidak  khorespondensi, karena apabila kita ingin melihat dan merasakan yang namanya sebuah peradaban itu tidak hanya sebagai sebutan kosong yang tanpa ada implementasinya. Maka timbullah pertanyaan Apakah kampus bisa dikatakan sebuah peradaban bagi para intelektual?, tentunya apabila kita melihat dan menganalisa dengan kondisi kampus dengan realitasnya, tentu kita akan mengatakan kampus itu tidak akan pernah bisa dikatakan sebuah tempat yang berpradaban.
Bukan lagi halnya dengan mahasiswa yang sering disebut dengan kata lain para intelektual kampus, yang tidak mempunyai tujuan dan arah yang pasti dalam menjalani layaknya kehidupan dalam dunia kampus yang hanya terjebak dan terjerumus dalam lilku liku dari berbagai dinamika dinamika dan rekayasa yang dibuat oleh pihak pihak yang seolah olah untuk kepentingan mahasiswa atau para intelektual, akantetapi itu hanya sebuah simbol belaka yang mempunyai tujuan dibalik tujuan itu, yang mempunyai tujuan yang tidak jelas dan menjadikan mahasiswa sebagai korban dari rekayasa sosial. Mereka para mahasiswa yang telah terjerumus dan terjebak dalam rekayasa yang telah dibuat oleh para kaum kaum yang biadab yang mengatakan dirinya beradab, telah membuat para mahasiswa menjadi budak budak dalam kehidupan dunia kampus. Akan tetapi Anehnya dan menurut saya sangat ironis ternyata banyak para mahasiswa yang telah terjerumus tidak mengatui bahwa dirinya telah berada dalam rekayasa kehidupan kampus.
Maka melihat realitas sebagaian mahasiswa, khususnya yang telah terjerumus dalam dinamika atau korban rekayasa, tentulah timbul pertanyaan. Masih layakkah mahasiswa dikatakan sebagai para intelektual.? Jawabannya tentu ada pada diri kita masing masing. Dan apabila kita menganngap diri kita sebagai mahasiswa atau dengan kata lain para intelektual, maka maknailah segala sesuatu dengan melihat makna dibalik realitas yang terjadi. Tentunya kita harus mempunyai pribadi yang tidak menjadi korban rekayasa dalam berbagai dinamika kampus, kita harus memiliki sifat yang biasa disebut dengan kata RAKUS, Rasional, Analisis, Kritis Universal dan sistematis, dalam bertindak atau dengan kata lain berpikir secara Radikal.
Jadi pada hakikatnya apabila kita ingin menjumpai yang namanya kampus sebagai wadah para intelektual, dan sebagai tempat untuk mengasah keintelektualan, apalagi sebuah tempat yang dikatakan sebuah tempat yang berpradaban maka perlu ada realisasi yang aktualisasi demi meraih visi dan misi.

                                                                                                Analisis Kampus                 
                                                                                                Ramli


Tidak ada komentar:

Posting Komentar