“Setiap
kamu adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas
kepemimpinannya.” Mungkin kata-kata tersebut yang paling cocok dan pas bagi setiap
orang muslim di jagad raya ini. Kenapa tidak, manusia diturunkan di bumi ini
adalah sebagai khalifah yang memakmurkan dan menyemarakkan dunia. Mungkin kita
juga sepakat bahwa pada setiap individu manusia muslim adalah seorang pemimpin.
Yakni memimpin dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Berbicara
tentang “kepemimpinan”, sungguh alangkah menumbuhkan jiwa semangat bagi setiap
muslim yang peduli akan iman yang diembannya. Jika kita menoleh jauh ke
belakang tentang sejarah awal Islam, tentulah kita akan menemukan banyak
pelajaran yang luar biasa apabila diaplikasikan dalam dunia modern sekarang,
khususnya dalam hal “kepemimpinan”. Bagaimana bentuk kepemimpinan Rasulullah
dan para sahabat-sahabatnya. Dan bagaimana cara pemilihan seorang pemimpin pada
saat itu.
Manusia diciptakan oleh Allah SWT kemuka bumi ini,
sebagai khalifah (pemimpin) dimuka bumi ini, oleh sebab itu maka manusia
tidak terlepas dari perannya sebagai pemimpin, dimensi kepemimpinan merupakan
peran sentral dalam setiap upaya pembinaan. Hal ini telah banyak dibuktikan dan
dapat dilihat dalam gerak langkah setiap organisasi. Peran kepemimpinan
begitu menentukan bahkan seringkali menjadi ukuran dalam mencari sebab-sebab
jatuh bangunnya suatu organisasi. Dalam pengertian dan hakikat kepemimpinan,
sebenarnya dimensi kepemimpinan memiliki aspek-aspek yang sangat luas, serta
merupakan proses yang melibatkan berbagai komponen didalamnya dan saling
mempengaruhi.
Dewasa ini kita tengah memasuki Era Globalisasi yang
bercirikan suatu interdependensi, yaitu suatu era saling ketergantungan yang
ditandai dengan semakin canggihnya sarana komunikasi dan interaksi.
Perkembangan dan kemajuan pesat di bidang teknologi dan
informasi memberikan dampak yang amat besar terhadap proses komunikasi dan
interaksi
tersebut. Era globalisasi sering pula dinyatakan sebagai era yang penuh dengan
tantangan dan peluang untuk saling bekerja sama. Dalam memasuki tatanan dunia
baru yang penuh perubahan dan dinamika tersebut, keadaan dewasa ini telah
membawa berbagai implikasi terhadap berbagai bidang kehidupan, termasuk
tuntutan dan perkembangan bentuk komunikasi dan interaksi sosial dalam suatu
proses kepemimpinan.
Setiap bangsa, nampaknya dipersyaratkan untuk memiliki
kualitas dan kondisi kepemimpinan yang mampu menciptakan suatu kebersamaan
dan kolektivitas yang lebih dinamik. Hal ini dimaksudkan agar memiliki
kemampuan bertahan dalam situasi yang semakin penuh dengan persaingan, bahkan
diharapkan mampu menciptakan daya saing dan keunggulan yang tinggi. Begitu
pula dalam konteks pergaulan dan hubungan yang lebih luas, setiap negara-bangsa
(nation state) dituntut mampu berperan secara aktif dan positif baik
dalam lingkup nasional, regional maupun internasional.. Namun, harus disadari
pula bahwa dalam setiap proses kepemimpinan, kita akan selalu dihadapkan pada
suatu mata rantai yang utuh mulai dari yang paling atas sampai tingkat yang
paling bawah dan ke samping. Karena itu, pemahaman serta pengembangan dalam
visi dan perspektif kepemimpinan amat diperlukan dalam upaya mengembangkan
suatu kondisi yang mengarah pada strategi untuk membangun daya saing, khususnya
dalam upaya meningkatkan kualitas dan produktivitas bangsa yang ditandai oleh
semangat kebersamaan dan keutuhan.
Kita sekarang dihadapkan kepada dua dimensi kepemimpinan,
antara kepemimpinan islam, dan kepemimpinan barat, islam telah memberi gambaran
nyata akan keberhasilannya dalam memimpin suatu oraganisasi sebagaimana yang
telah dilakukan oleh nabi kita muhammad saw. Akan tetapi disisi lain
orientalis-orientalis barat dengan berbagai teorinya yang ilmiah mencoba
mengalihkan perhatian masyarakat dari kepemimpinan islam, dan berpaling
terhadap kepemimpinan yang ditawarkan oleh orang-orang barat yang jelas-jelas
bertentangan dengan kepemimpinan dalam islam. Walaupun tidak seluruhnya bertentangan dengan
kepemimpinan islam, akan tetapi ini bisa menjadi penyebab bagi ummat untuk
meninggalkan aturan-aturan islam.
Dalam Al-Qur’an
Surat An-nisa: 59 Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ
مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ
وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاًً(النساء:59)
“Hai
orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu. Kesudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih
utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”(Q.S An-Nisaa: 59)
Rasulullah Saw, adalah tauladan bagi
umat dalam segala aspek kehidupan, khususnya dalam hal kepemimpinan ini beliau
adalah sosok yang mencontohkan kepemimpinan paripurna dimana kepentingan umat
adalah prioritas bagi beliau. Maka sangatlah tepat apabila kita sangat mengidealkan
visi dan model kepemimpinan Muhammad SAW (sang revolusioner yang legendaries,
manusia mulia kekasih Allah SWT).
Eggi yang merupakan seorang eksponen
generasi muda, mengatakan secara tajam bahwa dalam sejarah umat manusia belum
satupun dapat terwujud sosok pemimpin sehebat kepemimpinan Rasulullah SAW,
iapun melontarkan sejumlah kriteria persyaratan yang harus ada dalam sosok
seorang pemimpin, dari apa yang berusaha ia peroleh dari keteladanan
kepemimpinan Rasulullah Saw, yaitu:
1. Pemimpin harus dekat dengan Tuhan
dan konsisten memperjuangkan nilai-nilai dan ajaran Tuhan yang baik dan luhur.
2. Pemimpin haruslah seorang yang
ikhlas (nothing to loose), tanpa mengharap pamrih kecuali untuk beribadah pada
Tuhan melalui pengabdiannya kepada rakyat.
3. Pemimpin harus sosok yang jujur
dan adil. Dan khalifah umar bin khaththab merupakan contoh pemimpin yang mampu
membedakan mana kpentingan pribadi dan mana kepentingan Negara.
4. Pemimpin harus mencintai rakyat
dan mendahulukan kepentingannya diatas kepentingan diri keluarga dan
golongannya.
Nampaknya, empat kriteri tersebut
masih sangat jauh dari harapan apabila kita melihat kembali pada realitas yang
menindas saat ini.kepemimpinan dijadikan alat untuk mengeksploitasi rakyat.
Padahal Islam memandang kepemimpinan sebagai sebuah beban (taklif) dan
amanah, sehingga orang yang diberikan amanah kepemimpinan, dia harus
mengedepankan pelayanan kepada masyarakat. Karena pemimpin adalah khadimul
ummah (pelayan masyarakat).
Oleh karena itu, (Hilal: 2005) Sayid
al-Wakil mengemukakan pendapatnya, bahwa: seorang pemimpin harus memiliki
sekurang-kurangnya lima syarat, yaitu:
1. Muslim
2. Berilmu
3. Adil
4. Memiliki kemampuan memimpin
(skill kepemimpinan)
5. Sehat jasmani sehingga dapat
menjalankan tugas-tugasnya.
Adapun
gambaran kepemimpinan dalam perspektif Islam dan kepemimpinan perspektif Barat,
yakni:
1. Kepemimpinan Dalam Prespektif Islam
Nabi Muhammad SAW merupakan sosok
pemimpin yang terkenal dengan kearifannya, sifat beliau yang menonjol dalam
kepemimpinannya, tidak saja di akui oleh orang-orang islam sendiri tapi juga
diakui oleh orang-orang orientalis barat yang nota bene mereka adalah
orang-orang yang menentang islam, hal ini memberi gambaran kepada kita
bahwasannya kepemimpinan dalam islam bukan saja hasilnya hanya dirasakan oleh
umat islam itu sendiri , akan tetapi dirasakan oleh umat non muslim,
Kepemimpinan islam memberikan prospek yang cerah bagi kelangsungan hidup
manusia di Era Globalisasi sekarang ini yang sarat dengan krisis
kepemimpinannya dan dekadensi moral akibat ulah-ulah para penguasa yang tidak
bertanggung jawab. Dan perlu difahami pula bahwasannya seseorang dikatakan
sebagai pemimpin manakala ia benar-benar beriman dan bertaqwa kepa Allah swt,
dan inilah yang membedakan antara kepemimpinan dalam islam dan kepemimpinan
menurut teori orang-orang barat.
Seorang pemimpin dalam islam itu
tidak boleh terlepas ciri-ciri berikut ini sebagai pedoman dalam memilih calon
pemimpin masa depan:
1) Setia; Pemimpin dan orang yang dipimpin
terikat kesetiaan kepada Allah.
2) Tujuan; Pemimpin melihat tujuan organisasi
bukan saja berdasarkan kepentingan kelompok tetapi juga dalam ruang lingkup
tujuan Islam yang lebih luas.
3) Berpegang pada Syariat dan Akhlak
Islam; Pemimpin
terikat dengan peraturan Islam, boleh menjadi pemimpin selama ia berpegang pada
perintah syariat. Waktu mengendalikan urusannya ia harus patuh kepada adab-adab
Islam, khususnya ketika berurusan dengan golongan oposisi atau orang-orang yang
tak sepaham.
4) Pengemban Amanah; Pemimpin
menerima kekuasaan sebagai amanah dari Allah yang disertai oleh tanggung jawab
yang besar. Qur’an memerintahkan pemimpin melaksanakan tugasnya untuk Allah dan
menunjukkan sikap baik kepada pengikutnya.
Di
dalam Al-Qur’an Allah swt., berfirman:
الَّذِينَ
إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ
وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ
الأُمُورِ(الحج:41(
“Yaitu orang-orang yang jika Kami
teguhkan kedudukan mereka, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat,
menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah perbuatan yang mungkar… “(QS.22:41).
2. Pemimpin
Dalam presfektif Orientalis Barat
Pada dasarnya prinsip kepemimpinan
dalam presfektif barat hampir sama dengan kepemimpinan dalam presfektif islam,
untuk mencapai suatu keberhasilan dalam merealisasikan visi dan misi suatu
perkumpulan atau organisasi, akan tetapi sebagai mana di jelaskan diawal tadi,
bahwasannya kepemimpinan dalam islam bukan saja hanya mengurus masalah duniawi
semata akan tetapi berkenaanpula dengan masalah akhirat juga, atau lebih
spesifik lagi berkenaan dengan tanggung jawabnya selaku pemimpin kepada Allah
swt, dalam artian pemimpin dalam islam bukan saja bertanggung jawab ketika
didunia tapi ia juga harus bertanggung jawab membawa umatnya kejalan yang benar
yang diridhai oleh Allah swt, sehingga selamat nanti diakhirat kelak. Berbeda
dengan kepemimpinan dalam prespektif barat, mereka meyatakan bahwasannya
seorang pemimpin ialah orang yang mampu mengendalikan massa, dan mampu menguasai
mereka, tanpa menghiraukan penderitaan anggotanya atau organisasi-organisasi
lainnya, yang penting dia merasa senang, walaupun harus tertawa diatas
penderitaan orang lain, seperti yang telah dilakukan oleh pemimpin-pemipin
barat, diantaranya, adolf Hitler, naji, josh.w.bush, dan lain-lain.
Akibat menyerapnya teori-teori
kepemimpinana yang dibawa oleh orang-orang barat, kedalam pemahaman orang-orang
muslim, ini mengakibtkan terjadinya, ketimpangan dalam memahami, ajaran
kepemimpinana islam, seperti contoh kasus, boleh tidaknya seorang wanita
menjadi pemimpin, ini merupakan problem yang sangat fundamental, di dalam
masyarakat kita sekarang, dan ini menjadi tugas kita, untuk kembali meluruskan,
pemahaman tentang kepemimpinan menurut ajaran islam, yang berlandaskan AL-Quran
dan sunnah.
Sejarah islam
mencatat, keberhasilan para pemimpin dikalangan umat islam, khususnya ketika
zaman Rasulullah SAW. Konsep kepemimpinan ini masih menjadi sebuah tanda tanya
besar dikalangan umat islam sendiri, apalagi ditambah dengan, semakin hilangnya
pigur-pigur, dan tokoh-tokoh yang mahir dalam kepemimpinan, perbedaan tersebut
karena di pengaruhi oleh, ajaran-ajaran orng barat yang mencoba untuk mengikis
habis, pemahaman asli umat islam terhadap kepemimpinan.
Seiring dengan bergantinya
zaman, maka bergantipulalah sistem kepemimpinan, akan tetapi bagi umat islam
sistem kepemimpinana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnyalah,
sistem yang paling baik dan akurat, dengan tidak mengenyampingkan sistem-sistem
baru yang memang itu sejalan dengan yang dicontokan rasul, dan diajarkan
didalam Al-Quran.
Akan tetapi
kini, banyak umat islam yang mencoba menerapkan sistem baru, yang bervariasi
ragamnya, yang jelas itu tidak sejalan dengan apa yang telah dianjurkan
Rasulullah SAW.
Perlu
ditekankan disini, bahwa sebuah sistem betapapun baiknya tanpa dijalankan oleh
pemimpin yang baik tentu tidak akan jalan. Seperti saat ini, betapa banyak dan
lengkap perangkat hukum di negara yang kita cintai, namun mengapa semuanya
amburadul.
System adalah kata lain dari aturan
main. Maka sangat tidak mungkin aturan main yang dibuat dan cocok untuk bangsa
lain dapat dipakai dan diterapkan dalam sebuah Negara yang telah memiliki
system tersendiri. Dan jika kita tetap berharap dan berusaha lebih keras, bukan
suatu keniscayaan apabila suatu saat nanti akan terbentuk suatu pemimpin dan
kepemimpinan yang menjunjung tinggi nilai-nilai hukum Allah yang mendasarkan
segala aspek kehidupan hanya dengan Al-Quran dan As-Sunnah, seperti yang telah
dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
By: Mardiyah, Mz
Tidak ada komentar:
Posting Komentar